https://ejurnal.stakpnsentani.ac.id/index.php/jrm/issue/feedREI MAI: Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Kristen2026-05-31T00:00:00+09:00Dr. Serli Patasik, S.Ag, M. Th.serli@stakpnsentani.ac.idOpen Journal Systems<p style="text-align: justify;"><strong>REI MAI:</strong> Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Kristen merupakan jurnal pendidikan dan ilmu interdisiplin pada bidang-bidang humaniora. Rei Mai: Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Kristen dibawa Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAKPN Sentani yang dimulai pada 2023. Rei Mai mempublikasi artikel 2 kali dalam setahun yaitu pada bulan <strong>Mei</strong> dan <strong>November</strong>. Rei Mai sangat konsisten dan menekankan novelty pada artikel dan memperhatikan benefit keilmuan. Jurnal ini bertujuan untuk mempublikasikan karya ilmiah dari dosen, peneliti, mahasiswa, dan praktisi nasional untuk mempresentasikan ide, konsep dan teori baru mereka dalam pendidikan dan studi teologi.</p> <p><strong>E-ISSN:</strong> <a title="E-ISSN Rei Mai" href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20230617231083739" target="_blank" rel="noopener"><strong>2987-9310</strong></a> | <strong>P-ISSN:</strong> <a title="P-ISSN JRM" href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20230617311025922" target="_blank" rel="noopener"><strong>2988-0335</strong></a></p>https://ejurnal.stakpnsentani.ac.id/index.php/jrm/article/view/215Peran Keluarga dan Gereja Dalam Mengatasi Bully: Kolaborasi dalam Membentuk Karakter Generasi Z2025-03-13T09:53:09+09:00Widya Septiana Zebuawidyazebua857@gmail.comYanuar Ada Zegayanuarc0101@gmail.comSisi Sisiyanuarc0101@gmail.com<p>Artikel ini membahas peran penting keluarga dan gereja dalam mengatasi masalah <em>Bullying </em>melalui kolaborasi yang efektif dalam membentuk karakter Kristen bagi generasi Z. Keluarga, sebagai unit sosial pertama bagi anak, memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai moral dan empati, sementara gereja menyediakan bimbingan spiritual dan moral yang memperkuat pendidikan karakter ini. Sinergi antara kedua institusi ini menciptakan lingkungan yang mendukung bagi perkembangan anak, membekali mereka dengan keterampilan sosial dan emosional yang diperlukan untuk menghadapi <em>Bullying</em>. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dipilih sebagai metode dalam mengumpulkan data, dalam penelitian ini penerapan metode ini mampu mengakomodir peniliti untuk menarik Kesimpulan dan menjawab hipotesa yang telah peneliti rangkum. Artikel ini juga mengeksplorasi tantangan yang dihadapi dalam kolaborasi ini dan menawarkan solusi praktis untuk mengatasinya, dengan tujuan membentuk generasi muda yang kuat, berintegritas, dan siap melayani sesuai dengan ajaran Kristiani</p>2026-05-31T00:00:00+09:00Copyright (c) 2026 Widya Septiana Zebua, Yanuar Ada Zega, Sisi Sisihttps://ejurnal.stakpnsentani.ac.id/index.php/jrm/article/view/235Peran Orangtua dalam Mengajarkan Etika Kristen Kepada Anak-Anak di Era Digital2025-03-14T14:44:05+09:00Sonya Mautukamautukasonya@gmail.comImel Sepatandekanimelsapatandekan04@gmail.comDamica Waruwudamicawaruwu@gmail.comMonica Santosamonicasantosa@sttsoteria.ac.id<p>Dunia digital menawarkan kemudahan akses informasi namun juga dapat menyebarkan nilai-nilai yang bertentangan dengan prinsip moral, termaksud nilai-nilai kekristenan. Penelitian ini mengajarkan pentingnya peran orang tua dalam mengajarkan etika Kristen kepada anak-anak di tengan era digital yang penuh dengan tantangan dan pengaruh negatif. Bagaimana peran orang tua dalam mengjatkan etika kristen kepda anak do era digital dan apa strategi efektif yanh dapat diterapkan untuk membentuk karakter anak berdasakan etika Kristen di era digital. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi peran orang tua dalam mendidik anak-anak, agar anak-anak bisa bertumbuh dalam Kristus dan menanamkan nilai-nilai etika Kekristenan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode pendekatakan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka, data dikumpulkan dari berbagi sumber literatur, seperti buku jurnal dan artikel yang relavan mengenai etika Kristen, pendidikan anak dan tantangan di era digital. Penelitian ini menunjukan bahwa nilai-nilai utaman dalam etika Kristen, seperti kasih, keadilan, kebenaran, kerendahan hati pelayanan dan pengampunan. Nilai-nilai ini sangat penting untuk diajarkan oleh orangtua kepada anak sejak dini, orang tua berperan penting sebagai teladan, komunikator, pengawas, dan pendidik dalam kehidupan anak. Strategi yang dapat diteraokan meliputi penggunaan media sosial secara bijak, membangun komunikasi terbuka, memberikan pengajarkan sesuai dengan nilai kekristenan serta memebrikan dukungan emosional dan pembinaan rohani secara konsisten. Keterlibatan aktif orang tua dalam membimbing anak dengan nilai-nilai etika Kristen dapat membentuk karakter yang kuat dan tangguh dalam menghadapi tantangan zaman, seperti keterbatasan waktu, tekanan teman sebaya, dan informasi tidak akurat.</p>2026-05-31T00:00:00+09:00Copyright (c) 2026 Sonya Mautuka, Imel Sepatandekan, Damica Waruwu, Monica Santosahttps://ejurnal.stakpnsentani.ac.id/index.php/jrm/article/view/321Analisis Teologis Dampak Kejatuhan Manusia Dalam Berdasarkan Dari Kejadian 32026-05-16T21:41:24+09:00Noh Asbanuobedantok@gmail.comDesriang Zebuaobedantok@gmail.comsariyanto sariyantoantokobed9@gmail.com<p style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;">The fall of Adam and Eve in Genesis 3 is a pivotal event in Christian theology that altered humanity's relationship with God, others, and nature. This study aims to analyze the theological, moral, and existential impacts of the fall and its relevance to contemporary issues such as social conflicts and ecological crises. The research employs a qualitative approach through the analysis of biblical texts, theological literature, and contextual studies. The findings reveal that the original sin stemmed from a lie that sowed doubt about God’s goodness, leading to disobedience. Consequently, humanity’s relationship with God was broken, divisions among people emerged, and harmony with nature was disrupted. In conclusion, the fall underscores the necessity of the doctrine of redemption to restore damaged relationships. The church is expected to play an active role in spiritual education and moral guidance to help address the effects of sin in human life.</p>2026-05-31T00:00:00+09:00Copyright (c) 2026 Noh Asbanu, Desriang Zebua, Sariyantohttps://ejurnal.stakpnsentani.ac.id/index.php/jrm/article/view/359Kontekstualisasi Gaya Kepemimpinan Musa dalam Kepemimpinan Gerejawi Masa Kini2026-02-12T11:34:46+09:00Viktor Deni Siregarviktordenisiregar@gmail.comRonald Sianiparsianiparamos@gmail.com<p>Banyak gembala dan pemimpin gereja masa kini masih belum menunjukkan integritas dalam mempersiapkan generasi penerus yang mampu memimpin lembaga gereja dengan hati yang tulus dan sesuai dengan panggilan Allah. Dalam praktiknya, proses suksesi kepemimpinan sering kali lebih mengutamakan anggota keluarga atau kerabat dekat dibandingkan individu yang memiliki kedewasaan rohani, kapasitas kepemimpinan, dan panggilan yang jelas untuk menggembalakan umat Tuhan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman teologis mengenai gaya kepemimpinan Musa serta menawarkan prinsip-prinsip praktis yang dapat diterapkan dalam kepemimpinan gerejawi masa kini. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka melalui analisis teks Alkitab, buku-buku teologi, artikel jurnal ilmiah, dan referensi relevan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan Musa memiliki dua dimensi utama, yaitu dimensi ilahi dan dimensi insani. Dimensi ilahi menekankan kepekaan seorang pemimpin terhadap kehendak Allah dalam memilih dan menetapkan pemimpin berikutnya, sedangkan dimensi insani diwujudkan melalui proses pemuridan, ketulusan, kelemahlembutan, sikap tidak mementingkan diri sendiri, dan integritas dalam membina calon pemimpin. Kontribusi utama artikel ini adalah menunjukkan bahwa suksesi kepemimpinan gereja yang sehat harus didasarkan pada panggilan Tuhan dan karakter rohani, bukan pada hubungan kekerabatan, kepentingan pribadi, atau pertimbangan material. Dengan demikian, gaya kepemimpinan Musa memberikan model teologis dan praktis bagi para pemimpin gereja untuk membangun regenerasi kepemimpinan yang adil, berintegritas, dan berpusat pada kehendak Allah.</p>2026-05-31T00:00:00+09:00Copyright (c) 2026 Viktor Deni Siregar, Ronald Sianiparhttps://ejurnal.stakpnsentani.ac.id/index.php/jrm/article/view/398Kajian Kritis Hermeneutika Modern Friedrich Schleiermacher dalam Perspektif Pentakostal dan Implikasinya Bagi Gereja Masa Kini2025-10-05T12:54:03+09:00Robert Stefanus hiarobertstevanushia@gmail.comEster Princes Banamtuanesterprinces23@gmail.com<p>Penelitian ini membahas tinjauan kritis konsep hermeneutika modern yang dikembangkan oleh Friedrich Schleiermacher dalam perspektif kaum Pentakostal. Schleiermacher dalam hermeneutikanya menekankan interpretasi gramatikal dan psikologis dalam proses penafsiran, dengan tujuan menghadirkan pemahaman yang setia terhadap maksud penulis asli. Namun, interpretasi ini menimbulkan persoalan ketika dihadapkan dengan keyakinan teologis Pentakostal yang menekankan otoritas mutlak Alkitab serta peran Roh Kudus dalam penafsiran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur yang terkait dengan topik. Hasil penelitian ini adalah menunjukkan bahwa pertama, pentingnya menjunjung tinggi otoritas Alkitab sebagai Firman Allah. Alkitab tidak dapat disejajarkan dengan teks lain yang bersifat sekuler, sehingga membuka kemungkinan pengaburan terhadap sifatnya yang ilahi. Kedua, pentingnya menekankan dimensi Pneumatologis dalam hermeneutika. Firman bukan hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk dialami dan dihidupi. Gereja masa kini dipanggil untuk tidak menjadikan tafsir Alkitab sebagai urusan pribadi semata, tetapi sebagai bagian dari kekayaan karya Roh Kudus di tengah komunitas. Dengan demikian, gereja dapat menjaga agar penafsiran tidak menyimpang ke arah subjektivisme yang berlebihan, sekaligus menghidupi Firman dalam praksis nyata yaitu dalam pelayanan dan kehidupan sehari-hari.</p>2026-05-31T00:00:00+09:00Copyright (c) 2026 Robert Stefanus Hia, Ester Princes Banamtuanhttps://ejurnal.stakpnsentani.ac.id/index.php/jrm/article/view/425Penerapan Teknologi AI untuk Mendukung Teori Pembelajaran Efektif dalam Pendidikan Agama Kristen2026-04-10T12:09:34+09:00Wilson Simbolonwilsonsimbolon410@gmail.comRezeki Putra Gulorezekiputra05@gmail.com<p>Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang bersifat relasional, personal, dan spiritual menghadapi tegangan mendasar dalam berhadapan dengan teknologi <em>Artificial Intelligence</em> (AI) yang bekerja secara adaptif dan otomatis. Persoalan yang dikaji dalam penelitian ini adalah sejauh mana AI dapat berkontribusi terhadap efektivitas pembelajaran PAK berdasarkan teori pembelajaran efektif QAIT Robert E. Slavin, serta bagaimana pemanfaatannya dapat dipertanggungjawabkan secara etis sesuai nilai-nilai Alkitab. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka (<em>library research</em>) dengan pendekatan analisis isi (<em>content analysis</em>) terhadap sumber-sumber akademik yang relevan. Kebaruan penelitian ini terletak pada konstruksi kerangka konseptual yang secara bersamaan mengintegrasikan teori pembelajaran efektif QAIT Slavin, penerapan AI dalam PAK, dan etika digital Kristen, suatu integrasi yang belum ditemukan dalam kajian-kajian sebelumnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa AI dapat memperkuat keempat elemen QAIT dalam PAK, yakni kualitas instruksi melalui <em>corrective feedback</em> yang segera, kesesuaian tingkat materi melalui sistem pembelajaran adaptif, motivasi melalui pengalaman belajar yang kontekstual dan bermakna secara rohani, serta efisiensi waktu instruksional yang memperluas ruang pembimbingan iman, sementara peran guru sebagai teladan iman dan pembimbing rohani tetap menjadi elemen yang tidak tergantikan dalam proses pendidikan Kristiani.</p>2026-05-31T00:00:00+09:00Copyright (c) 2026 Wilson Simbolon, Rezeki Putra Gulohttps://ejurnal.stakpnsentani.ac.id/index.php/jrm/article/view/685Analysis of Socio-Emotional Stigma among Youth: A Perspective of Christian Religious Education and Family Support2026-05-04T17:23:24+09:00Afri Yunita Henukafriyunita46@gmail.comMarden Jakobis Adumardenadu@gmail.com<p><em>Socio-emotional stigma among diaspora youth has become a significant issue in contemporary urban society, particularly in relation to identity formation, emotional well-being, and social adaptation. This study aims to conduct a literature review of the forms and contributing factors of socio-emotional stigma among Christian youth, to examine the role of Christian religious education in shaping emotional regulation and expression, and to explore the contribution of family support in strengthening emotional resilience and mitigating the impact of social stigma. The study employs a Systematic Literature Review (SLR) methodology by identifying, screening, and analyzing relevant scientific articles from reputable databases, including Google Scholar, Scopus, and ScienceDirect. A total of 220 articles were initially identified, 180 remained after duplicate removal, and 40 articles were ultimately selected for final analysis based on predefined inclusion criteria published between 2017 and 2025. The findings indicate that socio-emotional stigma among youth is influenced by complex urban social dynamics, including cultural diversity, social pressure, and low environmental acceptance. These conditions contribute to decreased self-confidence, emotional disturbances, and difficulties in establishing healthy social interactions. However, Christian religious education and family support play a crucial role in mitigating these challenges by fostering moral development, strengthening spiritual values, and enhancing emotional resilience. The synergy between these two factors is essential in shaping youth who are resilient, ethical, and adaptive to social dynamics.</em></p>2026-05-31T00:00:00+09:00Copyright (c) 2026 Afri Yunita Henuk, Marden Jakobis Aduhttps://ejurnal.stakpnsentani.ac.id/index.php/jrm/article/view/690Sumber Lisan sebagai Dokumen Sejarah Gereja: Potensi dan Keterbatasan Oral History dalam Penelitian Eklesiologi2026-05-04T17:36:12+09:00Jovial Nexus Daelidaelijovial@gmail.comAbad Jaya Zegadaelijovial@gmail.comDyulius Thomas Bilodaelijovial@gmail.com<p>Historiografi gerejawi secara struktural didominasi sumber tertulis institusional sehingga pengalaman iman komunitas akar rumput, khususnya gereja-gereja lokal di wilayah misi Indonesia yang minim infrastruktur pengarsipan, nyaris tidak terwakili dalam narasi sejarah gereja. Namun demikian, belum ada kajian yang secara sistematis membahas posisi epistemologis <em>oral history</em> dalam kerangka penelitian eklesiologi dengan mempertimbangkan secara serentak dimensi historis, teologis, dan metodologisnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan instrumen lembar pencatatan data literatur dan matriks perbandingan konseptual, dianalisis melalui model historis-kritis dan analisis konseptual. Tujuannya mengkaji posisi epistemologis <em>oral history</em> dalam historiografi gerejawi serta merumuskan rekomendasi metodologis bagi peneliti eklesiologi di konteks keterbatasan sumber tertulis. Kebaruan penelitian ini terletak pada pembedaan tegas antara <em>oral history</em> dan <em>oral tradition</em>, penelusuran preseden historis sejak era patristik, serta integrasi perspektif dekolonisasi historiografis dalam kerangka penelitian eklesiologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>oral history</em> merupakan sumber primer yang epistemologis sah dan instrumen metodologis yang bersifat konstitutif bagi rekonstruksi sejarah komunitas gereja yang tidak terdokumentasikan, dengan prasyarat kritik sumber yang ketat, triangulasi metodologis sistematis, dan pertimbangan etika penelitian yang cermat.</p>2026-05-31T00:00:00+09:00Copyright (c) 2026 Jovial Nexus Daeli, Abad Jaya Zega, Dyulius Thomas Bilohttps://ejurnal.stakpnsentani.ac.id/index.php/jrm/article/view/733Dari Self-Reliance Ke God-Reliance: Eksegesis Amsal 3:5-6 Terhadap Transformasi Paradigma Orang Percaya2026-05-25T16:52:11+09:00Evy Paridawaty Sianturievysiant@gmail.comAgus Arda Setiawan Telaumbanuaagusardasetiawantelaumbanua@gmail.com<p>Diskursus modern cenderung mengidealkan otonomi dan kemandirian diri <em>(self-reliance)</em> sebagai kebajikan utama, sehingga berpotensi meminggirkan dimensi transendensi dalam kehidupan etis dan religius. Kitab Amsal 3:5-6 menawarkan narasi tandingan dengan merekonstruksi orientasi hidup manusia dari ketergantungan pada akal budi sendiri menuju kepercayaan penuh kepada Tuhan. Artikel ini bertujuan mengeksplorasi pergeseran paradigmatik tersebut melalui eksegesis teks Ibrani serta relevansinya bagi kekristenan kontemporer. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis gramatikal berdasarkan bahasa ibrani versi <em>Westminster Leningrad Codex</em>. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa struktur imperatif dan larangan dalam teks mengkritik absolutisasi rasio manusia sekaligus menempatkan pengakuan kepada Tuhan dalam totalitas hidup. Kesimpulannya, Amsal 3:5-6 mengartikulasikan epistemologi transformatif dari self-reliance menuju God-reliance yang holistik dan integratif serta relevan bagi spiritualitas serta pembentukan karakter Kristen masa kini.</p>2026-05-31T00:00:00+09:00Copyright (c) 2026 Evy Paridawaty Sianturi, Agus Arda Setiawan Telaumbanua